Perjalanan Pulang Kuliah ke Pekanbaru

Logo MhdSyarif

Pada hari Raya Idul Fitri 1435 H, saya berencana tidak pulang kampung disebabkan tidak ada biaya. Saya merupakan seorang Mahasiswa yang tidak punya uang banyak, untuk menghidupi kehidupan selama kuliah saya masih meminta uang kepada orang tua, sebenarnya saya malu pada diri saya sendiri dan bertanya dalam hati “Apakah kamu tidak kasihan melihat orang tua yang pagi sampai malam mencari uang agar kamu bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi ?” sering kali pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam hati, dan saya mencoba mencari pekerjaan agar tidak meminta uang kepada orang tua lagi.

Singkat cerita, alhamdulillah sambil kuliah pada Desember 2013 sampai Februari 2014, saya mendapatkan projek untuk membuat website dan pada bulan Maret sampai Juli 2014 saya bisa menanggung seluruh kehidupan saya di Bandung baik membeli makan, bayar kos-kosan atau kebutuhan lainnya bahkan saya bisa mengirimkan uang untuk membantu adik saya yang kuliah juga di Surabaya. Kami selalu saling membantu jika ada diantara kami tidak memiliku uang.

Sebelumnya saya akan memperkenalkan diri nama lengkap saya yaitu Mhd. Syarif, anak kedua dari 5 bersaudara, saya berasal dari Pekanbaru tepatnya disebuah kampung yang berada di Dusun Ujung Padang, Desa Sei. Jalau, Kec. Kampar Utara, Kabupaten Kampar, Riau. Sekarang saya melanjutkan pendidikan D3 ke D4 di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung (ITB). Jurusan yang saya ambil adalah Teknik Komputer Jaringan dan Media Digital (TKJMD). Saya kuliah sudah hampir satu tahun dan sekarang tinggal membuat tugas akhir. Untuk melihat informasi selengkapnya tentang saya bisa dikunjungi link berikut : http://blog.mhdsyarif.com/profil-mhd-syarif.

Waktu pembuatan tugas akhir ini bertepatan dengan bulan Puasa 1435 H, saya sangat bersemangat untuk meyelesaikan tugas akhir dan secepatnya bisa lulus kuliah, namun semangat saya itu bercampur dengan rasa sedih disebabkan saya tidak bisa pulang ke Pekanbaru dikarenakan tidak memiliki uang, uang saya hanya cukup untuk menghidupi kehidupan sampai dua minggu sebelum lebaran. Untuk tempat tinggalpun saya masih numpang sama teman, dan berharap agar bisa hemat untuk membeli tiket pesawat nantinya.

Ternyata tiga minggu sebelum lebaran uang saya hampir habis karena ada keperluan untuk membeli peralatan kuliah. Saya tidak berani dan malu meminta uang kepada orang tua untuk membeli tiket pulang. Saya berpikir tiket pulang pesawat dari Bandung ke Pekanbaru dua atau satu minggu sebelum lebaran itu pasti mahal diatas satu jutaan. Seperti rencana saya diawal tulisan ini, saya pada hari lebaran kali ini tidak akan pulang kerumah.

Tiga minggu sebelum lebaran orang tua saya menelpon dan menanyakan “kapan kamu bisa pulang kerumah nak ?“ saya hanya bisa terdiam sejenak dan mengatakan “secepatnya buk”. Ibu/Bapak menanyakan kembali “apakah kamu masih memiliki uang “?, saya dengan spontan menjawab “Alhamdulillah masih ada”, tidak lama setelah itu percakapanpun berakhir.

Saya berusaha mencari projek kesana kesini dan membuat iklan di blog bahkan dimedia sosial berharap bisa pulang kerumah dengan uang hasil sendiri, saya tahu bagaimana kehidupan orang tua saya, adik laki-laki saya yang ke empat yang kuliah di Surabaya ingin juga pulang ke Pekanbaru, belum lagi adik perempuan saya yang ke tiga yang kuliah di Pekanbaru, pada minggu pertama puasa berangkat melaksanakan KKN di Propinsi Kepulauan Riau dan juga adik perempuan terakhir saya yang pada awal bulan puasa masuk SMA untuk pertama kalinya. Dalam pikiran saya yang muncul adalah “berapa banyak jumlah uang yang harus dicari oleh orang tua saya, sedangkan orang tua saya hanya seorang petani”.

Setelah selesai shalat saya selalu berdo’a semoga Allah SWT memudahkan rezkinya buat keluarga saya. Tiga minggu sebelum lebaran saya belum juga mendapatkan pekerjaan atau projek, dengan rasa terpaksa saya menghubungi orang tua dan mengatakan saya tidak mempunyai uang untuk pulang kerumah. Beberapa hari kemudian orang tua saya mengirimkan uang sebesar satu juta rupiah, saya berpikir dari mana uang tersebut terkumpul secepat itu, ternyata sebagian uang tersebut ada juga pemberian dari abang saya dan dari sumber lainnya.

Alhamdulillah, setelah itu saya membuka laptop dan mencari tiket penerbangan dua minggu sebelum lebaran dari Bandung ke Pekanbaru. Setelah saya lihat harga tiket penerbangan disalah satu website jasa tiket online hampir semua maskapai dengan harga satu jutaan keatas dan itupun harus transit ke Batam dulu sebelum ke Pekanbaru dan hanya ada satu maskapai yang murah tanpa transit apalagi kalau bukan maskapai AirAsia, untuk informasi selengkapnya bisa mengunjungi link berikut : http://www.AirAsia.com. Saya tidak tahu kenapa hanya AirAsia saja yang tanpa transit langsung dari Bandung ke Pekanbaru dengan harga murah. Saya langsung booking tiket dengan harga yang masih promo Rp 699.775,- sekaligus dengan bagasi pada tanggal 16 Juli 2014.

Pada tanggal 16 Juli 2014, sekita pukul 05 : 45 WIB saya berangkat dari kosan ke Bandara Husein Sastranegara Bandung (BDO) dan tidak perlu waktu lama akhirnya saya sampai di Bandara sekitar pukul 06 : 05 WIB. Saya langsung check-in dan sesuai dengan jadwal pukul 06:50 WIB pesawat langsung take-off. Jujur saja ini pertama kalinya saya naik pesawat AirAsia dan kedua kalinya naik pesawat. Alhamdulillah Pukul 08:35 WIB saya dan para penumpang serta awak pesawat tiba di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru (PKU) dengan selamat.

Akhirnya setelah hampir satu tahun lamanya saya bisa kembali ke Pekanbaru dan menginjakkan kaki kembali di Bumi Lancang Kuning ini. Terima kasih ya Allah tanpa bantuanmu melalui maskapai penerbangan AirAsia, saya tidak akan bisa berkumpul dengan keluarga untuk merayakan hari Raya Idul Fitri 1435 H.

Terima kasih buat orang tua dan keluarga, kita bisa berkumpul kembali dihari kemenangan ini.

Saya juga telah membeli tiket untuk penerbangan dari Pekanbaru ke Bandung untuk melaksanakan tugas akhir kuliah pada tanggal 13 Agustus 2014 dengan harga promo Rp 701.700,-.

Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak kepada keluarga besar maskapai penerbangan AirAsia atas tumpangannya.

“AirAsia Telah Mengubah Hidupku”

Selamat ulang tahun AirAsia yang ke 10 semoga menjadi maskapai penerbangan yang berjaya di dunia dan berbiaya hemat.

HBD_AirAsia_ke10

Itulah sedikit pengalaman saya dalam menggunakan jasa penerbangan maskapai AirAsia, mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan dan penyampaian artikel ini. Tunggu cerita selanjutnya. Terima kasih. Salam dari warga Pekanbaru untuk AirAsia.

Dilihat sebanyak : 481 kali

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons nartzco