Pariwisata Riau Menyapa Dunia

Kerjaan Siak

Selama ini, Provinsi Riau lebih dikenal sebagai provinsi penghasil devisa dari minyak dan gas bumi. Padahal selain hasil tambang, Provinsi Riau sejatinya juga memiliki potensi pariwisata yang menjanjikan. Itulah sebabnya, Plt. Gubernur Riau H. Arsyadjuliandi Rachman sangat serius mengembangkan pariwisata di Bumi Lancang Kuning.

Potensi pariwisata Provinsi Riau, terdiri dari Wisata Alam, Wisata Budaya dan Wisata Buatan. Wisata Alam tersebar di semua kabupaten dan kota. Destinasi yang paling dikenal dan menjadi unggulan adalah Wisata Bekudo Bono/Surfing di sungai (Tidal Bore Wave) dengan durasi mencapai 60 km. Lokasinya berada di Sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan.

Selama ini, kita mengenal surfing hanya di laut. Tapi di Riau, ada tempat surfing di sungai, yang lokasinya terpanjang dan teraman di dunia. Tidal Bore Surf saingan adalah Poracua Brasil, tepatnya di Sungai Amazon. Hanya seperti kita ketahui, di Sungai Amazon banyak ikan piranhanya. Sungai Kampar masih sangat alami. Di kiri kanannya masih banyak tanaman hutan alamnya.

  • Air Terjun
  • Candi Muara Takus
  • Kerjaan Siak
    Kerjaan Siak
  • Ombak Bono

Pada Februari 2013 lalu, peselancar dunia Steve King berhasil memecahkan rekor dunia terbaru. Ia berhasil berselancar di atas Ombak Bono Sungai Kampar sejauh 20,6 km dengan waktu mencapai 1 jam 4 menit.WowwwAMAZING and Fantastico!

Memang, belakangan ini Ombak Bono Riau telah menjadi trend tersendiri bagi peselancar profesional. Bahkan Ombak Bono saat ini telah mengalahkan ombak Pantai Kuta, Bali.

Bagaimana tidak. Ombak Bono yang dikenal sebagai Seven Ghost (tujuh hantu) ini memang sangat besar. Ketinggian Ombak Bono bisa mencapai 4-6 meter dan panjang gulungan ombak lebih dari 60 km dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam. Wowww…

Karena itu, Ombak Bono Riau menjadi tujuan utama turis asing yang memang penggemar selancar dan peselancar profesional yang ingin mencoba ombak Seven Ghost. Untuk meningkatkan kunjungan wisman pada objek wisata ini, setiap November dilaksanakan Festival Bekudo Bono yang diikuti surfer berpengalaman dari berbagai penjuru dunia.

Selain Ombak Bono, Riau juga memiliki dua Taman Nasional, yakni Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBTP) dan Taman Nasional Teso Nilo (TNTN). Kedua Taman Nasional ini memiliki keragaman flora dan fauna yang berbeda. TNBTP terletak di dua provinsi, yakni Riau dan Jambi. TNBTP merupakan habitat Harimau Sumatera. Di dalam kawasan TNBTP terdapat mineral alam yang sangat disukai hewan, seperti rusa, kijang dan sebagainya. Di TNBTP ini juga ada Sekolah Orang Hutan.

Sedangkan TNTN berada di Kabupaten Pelalawan dan Kuantan Singingi. TNTN menjadi habitat Gajah Sumatera. Di TNTN kita bisa ikut patroli gajah menyusuri sungai dan pada bulan tertentu kita juga bisa mengamati migrasi Burung Raptor.

Selain Taman Nasional, Provinsi Riau juga memiliki beberapa Suaka Margasatwa (SM), antara lain SM Rimbang Baling, SM Kerumutan, SM Tasik Besar Serkap, SM Tasik Besar Zamrud, dan juga Cagar Biosfer Giam Siak Kecil. Untuk menghindari konflik gajah yang terganggu habitatnya, Riau juga memiliki Pusat Latihan Gajah Sebanga, Pusat Latihan Gajah Minas, dan satu Taman Hutan Raya Sultan Syarif Kasim.

Di Provinsi Riau, juga terdapat puluhan air terjun. Air terjun tertinggi dan terbesar berada di Kabupaten Kampar, yakni Air Terjun Lubuk Bigau, tepatnya di Kecamatan Kampar Kiri Hulu. Air terjun ini berada di kawasan SM Rimbang Baling, kondisinya masih sangat alami dengan tinggi air terjun mencapai 135 meter, berada di ketinggian 1200 mdpl. Air terjun ini berada di gugusan bukit barisan. Di Kabupaten Kampar ini juga terdapat beberapa Lubuk (Danau) Larangan, bentuk konservasi alam untuk penyelamatan ikan alam.

Untuk Wisata Budaya, Provinsi Riau memiliki event tahunan yang sudah mendunia, seperti Upacara Bakar Tongkang di Bagan Siapiapi, Rokan Hilir. Tradisi Bakar Tongkang adalah tradisi komunitas Tionghoa di Kabupaten Rokan Hilir. Ketika tradisi ini dilaksanakan, komunitas Tionghoa yang berasal dari Bagan Siapisiapi akan berdatangan kembali ke kampung halamannya. Perantau sukses yang tersebar di Eropa, Amerika, Australia maupun Asia berbondong-bondong pulang. Ada yang pulang melalui Singapura via Batam dan Tanjung Balai Karimun, ada juga yang pulang via Jakarta dan Medan. Biasanya, Upacara Bakar Tongkang dilaksanakan pada bulan ke-6 penanggalan Cina.

Wisata Budaya yang juga sudah ratusan tahun adalah Festival Pacu Jalur di Kuantan Singingi (Kuansing). Pacu Jalur sudah digelar sejak zaman Belanda. Biasanya digelar pada bulan Agustus. Jika dulu untuk memperingati HUT Ratu Belanda, Wilhelmina. Sekarang untuk memperingati dan memeriahkan HUT RI. Seluruh penduduk desa akan tumpah-ruah ke Ibu Kota Kabupaten Kuansing, yakni Teluk Kuantan, tempat festival pacu jalur digelar. Otomatis seluruh aktivitas berpindah dari desa ke kota kabupaten. Tua-muda berdesak-desakan mendukung jalur andalan mereka di Tepian Narosa, Teluk Kuantan.

Tradisi ini terkenal unik karena untuk membuat jalur/perahu (jaluar bahasa Kuansing-nya) yang panjangnya bisa mencapai 37 meter dibuat dari Kayu Log utuh yang lurus. Kayu ditebang dari hutan belantara, lalu ditarik (dielo) beramai-ramai ke desa untuk dibentuk jadi perahu/jalur dan selanjutnya dilayur (diasap) agar kayunya merekah atau berkembang, sehingga kayu berdiameter 60 cm dapat diduduki pendayung (anak pacu) yang jumlahnya berkisar 54-60 orang. Festival Pacu Jalur ini biasanya dilaksanakan selama 5 hari dengan hadiah utama kerbau. Pemenang akan memotong hewan ternak tersebut dan memasak untuk dimakan seluruh penduduk desa.

Yang tak kalah menarik, Riau juga memiliki situs budaya Budha, yakni Candi Muara Takus yang terletak di Kabupaten Kampar. Situs ini setiap bulannya dikunjungi 2.500-3.500 orang. Para Bikshu se-dunia sering datang dan melakukan kongres serta ritual agama Budha di Candi Muara Takus. Situs ini menurut sejarah merupakan situs awal Kerajaan Sriwijaya. Jika kita teringat dengan Sumatera Tengah, konon menurut beberapa ahli, titik tengah Pulau Sumatera berada di Muara Takus. Jika ditarik garis imaginer lurus dari Banda Aceh ke Muara Takus, sama jaraknya jika ditarik garis lurus ke Bandar Lampung. Dan jika ditarik garis lurus ke bagian barat Sumatera, sama jaraknya dengan ke pesisir timur Sumatera.

Riau masih punya destinasi menarik lainnya, yakni situs Kerajaan Melayu, Kerajaan Siak Sri Indrapura. Istana yang dirancang arsitek asal Jerman ini dibangun oleh Raja Siak XI pada 1889 dan rampung pada 1893. Luas bangunan sekitar 1.000 meter persegi di tengah lahan seluas 32.000 meter persegi dengan ciri khas Melayu, Eropa, India dan Timur Tengah. Istana Matahari Timur ini menghadap ke Sungai Siak dengan jarak sekitar 100 meter. Anda pasti terkagum-kagum melihat bangunannya yang indah dan masih asli. Di istana ini juga masih tersimpan utuh salah satu alat musik langka, yakni Komet (berupa piringan besar). Komet ini hanya ada dua di dunia. Satu di Jerman tapi sudah rusak dan satunya lagi di Istana Siak. Anda masih bisa menikmati musik dari Komet langka itu. Di Istana dua lantai itu tersimpan benda-benda bersejarah peninggalan Kerajaan Siak.

Riau juga memiliki Potensi Wisata Buatan yang tersebar di beberapa daerah, seperti Kampar dengan Sungai Hijaunya dan Bukit Naang sebagai tempat wisata outbound. Pekanbaru sebagai Ibukota Provinsi Riau punyaThema Park di beberapa titik, Kabupaten Kampar dan Siak juga memiliki Water Park.

Untuk kebutuhan bisnis, Kota Pekanbaru dan Kampar memiliki fasilitas Hotel yang bisa digunakan untuk wisata mice. Untuk mice, Kota Pekanbaru sangat siap karena ada hotel dengan ruang konvensi, ada Mall dan pusat perdangangannya. Fasilitas mice di Kota Pekanbaru bersaing dengan kota-kota besar lainnya.

Selain itu, untuk mendukung dunia pariwisata, Sport Tourism Riau siap dengan fasilitas eks PON XVIII-nya. Ada Event Sport Tourism tahunan yang rutin digelar seperti Lomba Lari Pekanbaru 10 K yang sudah dilaksanakan selama 11 tahun. Ivent yang mulai mendapat perhatian dunia adalah Tour de Siak, yang sudah dilaksanakan sebanyak 3 kali. Tour de Siak ini melewati beberapa etape di Kabupaten Siak. Para pembalap bisa menikmati pemandangan alam yang indah mengelilingi Kabupaten Siak, melewati perkebunan kelapa sawit dan pompa angguk penyedot minyak Riau. Biasanya Tour de Siak digelar setiap bulan September dan diikuti peserta dari berbagai negara.

Tak ketinggalan, Riau sebenarnya juga kaya akan kuliner. Wisata kuliner bisa menjadi salah satu andalan Provinsi Riau. Lezatnya Gulai Asam Pedas, Gulai Ikan Patin, Ikan Selais Asap atau Roti Canai dan lain-lain bisa membuat orang datang berbondong-bondong ke Riau.

Sebagai negeri melayu, Pemerintah Provinsi Riau sudah merumuskan tageline sebagai branding yang senafas dan sejalan dengan tageline Pesona Indonesia, yakni “Riau The Homeland of Melayu”. Tagline ini diharapkan bisa menjadi brand image sekaligus mampu meng-endorse citra pariwisata Riau yang sarat dengan Budaya Melayu.

Beberapa ivent pariwisata Riau:

  1. Perang air (Sokran) di Kepulauan Meranti
  2. Lomba Mancing di Dumai
  3. Festival Sagu di Kepulauan Meranti
  4. Pekanbaru 10 K
  5. Balimau Kasai
  6. Raye Puasa 6
  7. Bakar Tongkang
  8. Pacu Jalur
  9. Gema Muharam
  10. Pacu Sampan Leper
  11. Menokah Kerang
  12. Tour de Siak
  13. Siak Bermadah
  14. Festival Batang Gangsal Inhu
  15. Festival Lancang Kuning
  16. Bono Jazz Festival
  17. Bekudo Bono
  18. Festival Muara Takus

Untuk memudahkan komunikasi ke pelanggan, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau melakukan terobosan dengan mendirikan Pusat Promosi Pariwisata Terpadu yang diberi nama “Cerita Baru Centre”. Kenapa cerita baru, agar lebih familiar dengan konsumen. Cerita Baru Centre menjadi salah satu ujung tombak pemasaran pariwisata Riau.

Perlahan tapi pasti, sektor pariwisata Riau diyakini akan menjadi sektor andalan bagi Provinsi Riau. Hanya saja, sektor pariwisata sangat rentan dengan perubahan lingkungan. Dampak kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan bencana kabut asap membuat sektor pariwisata sangat dirugikan. Banyak ivent pariwisata yang batal dilaksanakan. Penerbangan dari dan ke Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru sempat lumpuh membuat transportasi jadi terkendala.

Semoga ke depan, pariwisata Riau dengan dukungan semua pihak menjadi lebih baik dan diminati banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Ingat Riau, ingat minyak, ingat juga destinasi wisatanya. (Disusun oleh Badan Penghubung Provinsi Riau di Jakarta)

Sumber : http://microsite.detik.com/ads-etalase-seremonia/477/link/

Dilihat sebanyak : 1087 kali

Print Friendly

3 Responses to Pariwisata Riau Menyapa Dunia

  1. wusata riau says:

    yang gak kalah serunya adalah wisata kebun binatang kasang kulim yang ada di kubang kecamatan kampar,,, sekarang sudah mulai ada kolam pancing, kolam renang bahkan rumah hantu,,, meski gak tiap hari ada sih..

  2. leo says:

    Saya tertarik dengan artikel yang ada di website anda yang berjudul ” Pariwisata Riau Menyapa Dunia “.
    Saya juga mempunyai jurnal yang sejenis yang bisa anda kunjungi di Pariwisata Indonesia . Mari bersama-sama kita memperluas ilmu kita. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

[+] kaskus emoticons nartzco