Impian dan Kesempatan

Berikut ini cerita motivasi dari Mahasiswa ITB yang bersumber dari website Aku Masuk ITB 2014 (www.akumasukitb.com).

Perkenalkan saya Randy, mahasiswa jurusan Teknik Sipil ITB angkatan 2010. Saya lahir dan dibesarkan di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, yah sebuah Kabupaten yang masih belum berkembang dan masih sangat terbatas akan informasi, termasuk informasi tentang ITB. Sejak kecil saya bercita-cita menjadi “Insinyur Bangunan”, kata Ayahku jika ingin menjadi Insinyur saya harus kuliah di jurusan Teknik Sipil. Karena saya ingin kuliah di jurusan “Teknik”, suatu saat Ayahku berkata “kalau mau kuliah di jurusan Teknik, kau kuliah di Institut Teknologi Bandung, ITB, jurusan tekniknya paling bagus di Indonesia, nanti di sana kau kost, hidup mandiri”. Wow, pada saat itu tidak pernah terbayang bagaimana hidup sendiri di kost, jauh dari orang tua, tidak pernah terpikir untuk masuk ITB pada saat itu. ITB hanyalah sebuah IMPIAN, dari Tolitoli ke Bandung, sepertinya itu mustahil.

Kesempatan pertama datang ketika Ayahku menyuruhku untuk melanjutkan SMA ke Makassar. Pada saat itu, Ayahku hanya berpikir agar saya mendapat pendidikan yang lebih baik, pada saat itu pula saya hanya berpikir untuk masuk Universitas Hasanuddin di Makassar makanya saya melanjutkan SMA di Makassar. Tapi semuanya berubah ketika saya menjalani masa SMA, di Makassar aksesibilitas tentang perguruan tinggi terbaik di Indonesia bahkan di luar Indonesia sangat terbuka, dorongan dari para Guru untuk melanjutkan pendidikan ke pulau Jawa juga besar, ditambah lagi sudah ada alumni dari SMA-ku yang melanjutkan kuliah di ITB, pada saat itu pikiranku berubah, aku berpikir bahwa ternyata kuliah ITB bukan suatu hal yang mustahil untuk digapai, apa salahnya dicoba. Kesempatan kedua datang, pada saat itu saya telah melewatkan USM ITB salah satu tes masuk ITB dan hanya tersisa SNMPTN sebagai satu-satunya gerbangku menuju ITB. Saya mengikuti tes SNMPTN di Makassar dengan pilihan pertama adalah FTSL ITB. Dan hasilnya saya lulus di pilihan pertama FTSL (Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan) ITB, saat itu saya tidak percaya sesuatu yang sebelumnya hanya impian ternyata bisa diwujudnyatakan.

Menjalani kuliah di ITB sangat menyenangkan, tahun pertama cukup membosankan karena masih serasa seperti SMA saja, pelajarannya pun masih sama. Tapi tahun kedua dan seterusnya, kehidupan kampus menjadi lebih menarik, saya pun masuk ke jurusan Teknik Sipil ITB, hal yang memang saya impikan sejak dulu. Berawal dari proses kaderisasi atau ospek jurusan untuk masuk Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) ITB, saya mulai menemukan suatu ketertarikan untuk berorganisasi. Belajar tentang sejarah kemahasiswaan, tentang heroisme para mahasiswa pada tahun 70-an hingga akhir 90-an, sejarah panjang mahasiswa dalam perjuangan meruntuhkan orde baru menuju reformasi merupakan kisah heroisme yang paling menarik yang pernah kudengar. Cerita-cerita menarik tersebut datang dari berbagai orang, termasuk para dosenku di jurusan Teknik Sipil yang dulunya sebagian dari mereka adalah aktivitas mahasiswa. Selain itu, ITB memiliki jaringan yang kuat baik kepada alumninya maupun kepada orang-orang besar di Indonesia bahkan dunia, sehingga ketika kalian berada disini, mendengarkan seminar atau kuliah umum dari tokoh-tokoh nasional baik itu akademisi mapun negarawan sangat sering kami rasakan.

Banyak sekali hal menarik yang bisa kalian eksplor di ITB, percayalah ketika berada di ITB kalian akan punya cerita menarik sendiri, saya pun demikian. Pengalaman ini baru saya alami beberapa bulan yang lalu, tidak pernah terbayang olehku sebelumnya, saya akan bertemu orang sehebat ini di ITB. Pengalaman ini membuat pikiranku kembali mengawang ke masa SD dan SMP saat saya masih di Tolitoli dan saat berkuliah di ITB masih menjadi sebuah impian. Saya masih mengingat dengan jelas transformasi pendidikan besar-besaran yang terjadi di awal tahun 2000-an hingga tahun 2005. Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), sistem penilaian kelulusan melalui UAN (Ujian Akhir Nasional) sebagai pengganti NEM (Nilai Ebtanas Murni), penyelenggaraan OSN (Olimpiade Sains Nasional), hingga perubahan kurikulum pendidikan dari kurikulum 1994 menjadi KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) tahun 2004. KBK itu sendiri memiliki konsep yang sangat menarik, KBK menekankan pada pemahaman siswa terlebih dahulu, berbeda dengan kurikulum 1994 dimana para siswa dituntut untuk menguasai begitu banyak pelajaran yang sangat padat. Tak pernah terbayang olehku akan bertemu dengan sosok utama dibalik transformasi besar-besaran sistem pendidikan dasar dan menengah saat itu.

Pagi itu saya pergi ke perpustakaan pusat ITB dengan maksud mencari jurnal ilmiah sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan tema Tugas Akhir (TA) atau skripsi yang akan segera saya susun. Namun saat sedang mencari buku, mataku tertuju pada suatu buku yang covernya bergambar wajah seseorang yang kukenal, seorang yang sekarang menjadi dosen pembimbing untuk Tugas Akhir (TA) atau skripsiku. Buku berjudul “Indra Djati Sidi: dari ITB untuk pembaruan pendidikan” sangat menarik perhatianku. Yah, Indra Djati Sidi adalah seorang dosen di jurusan Teknik Sipil ITB, Beliau juga merupakan alumni Teknik Sipil ITB angkatan 1972, mantan aktivis mahasiswa dan mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Sipil. Beliau menjabat sebagai Dirjen Dikdasmen (Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah) Kemendiknas tahun 1998 hingga 2005. Beliaulah sosok utama dibalik transformasi besar-besaran pendidikan dasar dan menengah pada awal tahun 2000-an hingga tahun 2005. Merupakan sebuah kehormatan bagiku dapat mengenal Beliau dan menjadi anak bimbingan Beliau. Beliau adalah seorang motivator, seorang yang penuh dengan optimisme, seorang “practical intelligence” yaitu orang yang tidak hanya cerdas, kreatif, dan inovatif dalam berpikir tapi juga cakap dalam mengimplementasikan ide-idenya. Bagiku inilah sosok pemimpin yang seharusnya memimpin Indonesia, namun nampaknya itu tidak mungkin terjadi karena di Negara ini para akademisi sulit mendapat tempat di tengah para politisi.

Kalau saya melakukan sesuatu, berarti saya membuka peluang bagaimanapun kecilnya untuk memecahkan masalah-masalah bangsa di bidang pendidikan. Tetapi, anda yang hanya ngomel, tidak bertindak untuk melakukan sesuatu, probability-nya nol. Karena jika tidak melakukan sesuatu, anda pasti gagal – Indra Djati Sidi

Demikianlah perkataan Pak Indra yang kukutip dari buku yang berjudul “Indra Djati Sidi: dari ITB untuk pembaruan pendidikan”. Saya ingin berpesan untuk seluruh siswa-siswi di Indonesia, kami, mahasiswa ITB, akan terus berupaya untuk membuka peluang agar seluruh anak-anak Indonesia punya KESEMPATAN untuk masuk ITB, agar seluruh siswa-siswi di Indonesia dimana pun berada memiliki aksesibilitas informasi tentang ITB dan memperoleh motivasi untuk masuk ITB. Manfaatkanlah setiap kesempatan yang ada, cobalah tiap anda memperoleh kesempatan, karena ketika anda mencoba tiap kesempatan yang ada anda telah membuka peluang bagaimanapun kecilnya untuk masuk ITB. Sebaliknya ketika anda tidak pernah mau mencoba memanfaatkan kesempatan yang datang, probability anda nol, anda pasti gagal..!!

Sumber : www.akumasukitb.com

Dilihat sebanyak : 1868 kali

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

[+] kaskus emoticons nartzco