Aku Bisa Masuk ITB, Kamu Juga Pasti Bisa ‘kok!

Berikut ini cerita motivasi dari Mahasiswa ITB yang bersumber dari website Aku Masuk ITB 2014 (www.akumasukitb.com).

Rahmat Hidayat – 15010007

Siapa bilang kuliah hanya milik orang-orang kaya bermobil? Siapa bilang kuliah itu hanya milik anak-anak gaul kota metropolitan? Kuliah, di mana pun itu, hak semua orang. Tak peduli bagaimana latar belakangnya, dari mana asalnya, atau seberapa “mahal” sekolah asalnya.

Itu juga yang dirasakan Yayat sudah hampir tiga tahun yang lalu. Perasaan gamang dihadapkan dengan pengumuman kelulusan SMA membuatnya harus memilih sebuah keputusan, yang saat salah melangkah hilang sudah masa depannya; kemana harus melanjutkan sesuatu yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Bukan karena ia tidak pandai, dia bahkan pernah dianugerahi sebagai siswa berprestasi di kotanya. Kenyataan bahwa kondisi perekonomian keluarganya yang serba pas-pasan seringkali menghantui saat ia mulai memikirkan tentang masa depan. Yayat bukan takut untuk bermimpi, dia hanya takut mengecewakan orang-orang yang sudah menggantungkan masa depannya di atas pundaknya; keluarga yang ia cintai.

Sejak duduk di bangku pertama di sekolah menengah atas, Yayat pernah berikrar akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dengan atau tanpa dukungan keluarganya. Terlahir dari orang tua berprofesi sebagai penarik becak dan penjual makanan keliling tidak lantas membuat Yayat menyerah kepada keadaan. Dia justru bangga karena terlahir di keluarga yang membesarkannya secara baik, mengajarkannya bangkit dari keterpurukan, membiasakannya untuk percaya bahwa Tuhan punya rencana indah dalam hidupnya. Yayat bahkan pernah dengan lantangnya menantang guru matematikanya waktu itu, “Saat lulus nanti, saya akan melanjutkan pendidikan di fakultas kedokteran Universitas Indonesia, Pak!” Tekad kuat dan kemampuan berjuangnya yang tinggi membuat Yayat mampu melewati masa sekolah menengah atasnya dengan catatan prestasi yang memuaskan. “Status bukan halangan bagi setiap orang untuk berprestasi. Anak pintar itu gak harus kaya, dia hanya cukup belajar!”, begitu pikirnya sederhana.

Bersekolah di tempat bahkan saat kau menyebutkan nama sekolahmu tidak ada seorang pun yang tahu keberadaannya, tidak lantas membuat Yayat rendah diri. Yah, tidak ada yang salah dengan bersekolah di daerah. Sekolah, sebagaimana seharusnya, menjadi tempat di mana kita diajar dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dan dari tidak biasa menjadi terbiasa. Di sana lah kita akan ditempa untuk menjadi orang-orang yang tidak mudah menyerah, bahkan saat kau tidak punya uang sepeser pun untuk sekedar membeli buku pelajaran hingga harus meminjam ke perpustakaan sekolah setiap hari. “Hei, itu sama sekali tidak memalukan! Yayat, dengan tubuh kecilnya, hampir tiap hari membawa buku-buku besar (dan tentu saja berat) yang ia pinjam dari perpustakaan.

Hei, lihatlah Yayat sekarang! Saat ini, Yayat ada di salah satu kampus (yang katanya) terbaik yang dimiliki bangsa ini. Belajar bersama orang-orang pintar dari seluruh penjuru negeri. Orang-orang yang tidak hanya pintar, mereka juga punya nasib yang lebih beruntung karena memiliki keluarga yang berkecukupan. Cukup mobil, cukup gadget, cukup uang saku, dan kecukupan-kecukupan lainnya.

Yayat, anak kampung yang dulu bercita-cita menjadi dokter, saat ini duduk di tempat yang sama dengan tempat yang pernah diduduki mantan Bapak Proklamator Indonesia. Bukan tanpa tujuan dia berada di sini. Kesempatan yang pernah datang sekali seumur hidup dalam hidupnya tidak ia sia-siakan. Menempuh pendidikan di tempat tujuan utama anak-anak pintar dari seluruh Indonesia, apalagi tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun, malah setiap bulan kau diberi uang jajan, siapa yang tidak tertarik? Istilahnya, hanya perlu siapkan badan berangkat ke kampus setiap hari dan pusatkan perhatianmu menerima apa yang dosen sampaikan, “Oh teman, itu sangat mudah! Kamu hanya perlu banyak belajar dan berdoa, serta sedikit keberuntungan untuk melalui hari-hari di tempat idaman ini, hidupmu akan menjadi lebih baik.”

Berada di sekeliling orang-orang baik dan pintar itu setidaknya kau akan terkena imbasnya. Minimal, ikut menjadi rajin dan pintar. Itu juga yang Yayat rasakan. Di tempat barunya ini, setelah hampir tiga tahun di kampus Ganesha, Yayat belajar tentang banyak hal. Tidak hanya berkaitan dengan konsentrasi yang tengah didalaminya, kepekaan sosialnya pun semakin terasah di kampus ini. Berkomunikasi dengan banyak orang, menyampaikan gagasan, mendengarkan pendapat orang lain, menghargainya, memahami perasaan orang lain, bagian tersulitnya. Semua kemampuan itu ia dapatkan selama berinteraksi dengan oarang-orang yang berasal dari berbagai suku, daerah, agama, bahasa.

Tidak salah memang keputusannya untuk menanggalkan cita-cita di kampus kuning dan beralih ke kampus Ganesha. Betapa tidak, kampus ini sudah terkenal menghasilkan pemimpin-pemimpin besar, tokoh-tokoh hebat dan inspiratif, dan pengusaha-pengusaha sukses di bidangnya. Termasuk jurusan di mana saat ini Yayat sedang menempuh pendidikan. Betapa banyak orang hebat di sekelilingnya. Guru-guru besar yang pernah berbagi kisah sukses bersamanya, semakin menguatkan tekatnya untuk menjadi ‘seseorang’ di masa depan. Seseorang yang tidak hanya sukses, tetapi juga dapat menggunakan kesuksesannya itu supaya bermanfaat bagi sekitar. Sebuah cita-cita besar yang saat ini terpatri dalam sanubarinya, sebuah janji di masa depan yang akan dia persembahkan untuk almarhum ayahnya dipanutinya.

Saat ini, anak kampung yang sering dipanggil Yayat, panggilan sayang dari kedua orang tuanya, telah membuktikan bahwa setiap orang boleh bermimpi besar; mimpi yang senantiasa dikejar, bukan mimpi yang hanya dilamunkan tentunya. Yayat, yang tak pernah sedetik pun terlintas dalam pikirannya untuk melanjutkan pendidikan di kampus yang telah melahirkan orang-orang hebat sekelas Soekarno, Habibie, dan sederet orang-orang hebat lainnya, -sekali lagi- membuktikan bahwa hidup yang diperjuangkan tidak akan pernah mengecewakan si empunya, apalagi saat kau sertakan Tuhan di dalamnya. “Aku saja bisa masuk ke ITB, aku sangat yakin kamu juga pasti bisa ‘kok! Aku tunggu.”

Sumber : www.akumasukitb.coom

Dilihat sebanyak : 1946 kali

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

[+] kaskus emoticons nartzco